TUGAS KE 1
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Nama : Putri Indah Larasati
Kelas : 2PA15
NPM : 18514604
Teori Kepribadian Sehat
·
Aliran
Psikonalisis
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan
oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai
studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud sendiri dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan
meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.[1] Pada mulanya istilah psikoanalisis hanya dipergunakan dalam
hubungan dengan Freud saja, sehingga "psikoanalisis" dan
"psikoanalisis" Freud sama artinya. Bila beberapa pengikut Freud
dikemudian hari menyimpang dari ajarannya dan menempuh jalan sendiri-sendiri,
mereka juga meninggalkan istilah psikoanalisis dan memilih suatu nama baru
untuk menunjukan ajaran mereka. Contoh yang terkenal adalahCarl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama "psikologi analitis" (bahasa Inggris: analitycal psychology) dan
"psikologi individual" (bahasa Inggris: individual psychology) bagi ajaran masing-masing
Psikoanalisis memiliki tiga penerapan :
v suatu metoda perlakuan terhadap
penyakit psikologis atau emosional.
Dalam cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20
orientasi teoretis yang mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental
manusia dan perkembangan manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang
disebut "psikoanalitis" berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang
juga beragam. Psikoanalisis Freudian, baik teori maupun terapi berdasarkan
ide-ide Freud telah menjadi basis bagi terapi-terapi moderen dan menjadi salah
satu aliran terbesar dalam psikologi..[4] Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis juga merujuk pada metoda
penelitian terhadap perkembangan anak.
Teori Psikologi Freud didasari pada keyakinan bahwa dalam
diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis yaitu Id, Ego dan
Super Ego dengan Id merupakan bagian palung primitif dalam kepribadian, Ego
merupakan bagian “eksekutif” dari kepribadian, ia berfungsi secara rasional
berdasakan prinsip kenyataan. Berusaha memenuhi kebutuhan Id secara
realistis,yaitu dimana Ego berfungsi untuk menyaring dorongan-dorongan yang
ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan dan Super Ego merupakan gambaran
internalisasi nilai moral masyarakat yang diajarkan orang tua dan lingkungan
seseorang. Pada dasarnya Super Ego merupakan hati nurani seseorang dimana
berfungsi sebagai penilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Karena itu Super
Ego berorientasi pada kesempurnaan.
Dalam Teori Psikoanalisa freud mengemukakan bahwa manusia itu
di pengaruhi dan dimotivasi oleh dorongan alam sadar dan alam tidak sadar serta
alam bawah sadar.
Berikut merupakan tingkat-tingkat kesadaran pada manusia
1). Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat
seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.
2). Tingkat prasadar (preconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis
yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya
memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.
3). Tingkat tidak disadari (unconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis
tidak disadari oleh individu. Gejala- gejala ini muncul misalnya dalam
dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan,
harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan
norma masyarakat, dan lain-lain.
Kepribadian yang baik menurut psikoanalisis adalah jika
individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah. Belajar mengatasi
tekanan dan kecemasan, serta keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id
dan ego.
Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisis:
1.
Menurut
freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola
perkembangan yang ilmiah.
2.
Kemampuan
dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar
3.
Mental
yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego
4.
Tidak
mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya
5.
Dapat
menyesuaikan keadaan ddengan berbagai dorongan dan keinginan.
·
Aliran
Humanistik
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam
psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme
yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli
psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan
sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang
berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri,
kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran
psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga “ dalam
aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam
psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang berusaha
memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran
pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis
berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak
sadar dari dalam diri. Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang
dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil pemikirannya tentang refleks yang
terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua perilaku
dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan
Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik
dikembangkan lebih berdasarkan pada metode penelitian kualitatif yang
menitik-beratkan pada pengalaman hidup manusia secara nyata (Aanstoos, Serlin
& Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji
tentang mental dan perilaku manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif
sebagai sesuatu yang salah kaprah.
Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan
kognitivisme yang mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam
usaha mempelajari tentang psikologi.
Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa
teori-teorinya tidak mungkin dapat memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan
prediktif sehingga dianggap bukan sebagai suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers,
1999).
Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan
untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer
adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang memfokuskan pada
kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya,
serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka
dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers
menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang
dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang
benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor
bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan
kepada klien.
Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi,
psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif
yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education).
Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan
melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan
keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik
ini.
· Aliran
Behaviorisme
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang
didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku
harus merupakan unsure subyek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran
revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup
dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang
menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga
psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata
sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang
perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan
penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism.
Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang
masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses
mental.
prinsip aliran behaviorisme
- Perilaku
nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari
jiwa atau mental yang abstrak
- Aspek
mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo
problem untuk sciene, harus dihindari.
- Penganjur
utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya
subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
- Dalam
perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh
para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan
akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson,
dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada
overt behavior tetap terjadi.
- Aliran
behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat
positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
- Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan. Terhadap aliran behaviorisme ini, kritik umumnya diarahkan pada pengingkaran terhadap potensi alami yang dimiliki manusia. Bahkan menurut pandangan ini, manusia tidak memiliki jiwa, tidak memiliki kemauan dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri.
·
Pendapat Allport
Saat ini teori-teori Allport (tentang kepribadian yang
sehat) tetap relevan. Berikut adalah tujuh kriteria dari Allport tentang
sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat:
1. Perluasan Perasaan Diri
ketika seseorang menjadi matang, ia mengembangkan
perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan
sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki
partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut
"partisipasi otentik".
2. Relasi Sosial yang Hangat
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan
dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk
merasa terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi
intim dengan orangtua, anak, pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari
perasaan perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan
baik.
3. Keamanan Emosional
Kualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri.
Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan,
dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut. Selain itu,
kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak
berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu.
4. Persepsi Realistis
Orang-orang sehat memandang dunia secara objektif.
Sebaliknya, orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan
keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang sehat tidak meyakini
bahwa orang lain atau situasi yang dihadapi itu jahat atau baik menurut
prasangka pribadi. Mereka memahami realitas sebagaimana adanya.
5. Keterampilan dan Tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya
menenggelamkan diri di dalam pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki
keterampilan yang relevan dengan pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus
menggunakan keterampilan itu secara ikhlas dan penuh antusiasme. Komitmen pada
orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua
pertahanan ego.
6. Pemahaman Diri
Memahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang
sulit. Ini memerlukan usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara
objektif. Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang
dirinya menurut keadaan sesungguhnya
7. Filsafat Hidup
Orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh
tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan
akan tugas untuk bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Allport
menyebut dorongan-dorongan tersebut sebagai keterarahan (directness).
·
Pendapat Rogers
Pendapat
rogers : memahami dan menjelaskan teori kepribadian sehat menurut rogers, yang
meliputi
1. Perkembangan kepribadian “self”
Rogers memusatkan perhatiannya pada penelaahan
cara-cara individu memandang masa kecilnya. Secaranya penghargaan yang
diterimanya positif, tanpa syarat, maka akan terjadi keserasian antara organism
dan self. Secara psikologis individu akan dapat menyesuaikan diri, dan
berfungsi penuh.
Pengalaman yang akan dipandang tidak disetujui (tidak
berharga), akan dikeluarkan dari self concept. Si anak akan mencoba berbuat
sebagaimana tuntutan lingkungannya, dan tidak akan berbuat bagaimana menurut
dirinya.
Untuk melindungi integritas self concept, pengalaman
yang tidak berharga tersebut diingkari, atau dibuat simbol yang menyimpang.
Mengingkari pengalaman itu berarti memalsukan
realitas, baik dengan mengangap gambaran tersebutu tidak ada, atau dengan
menyimpangkannya. Orang akan mengingkari rasa agresifitasnya karena tidak
konsisten dengan gambaran diri sebagai manusia yang tenang, damai, dan ramah.
Rogers menganggap bahwa orang akan menjaga dan
memelihara gambaran diri, sekalipun tidak sama dengan realita.
Pada tingkat fisiologis, Rogers tidak membedakan
antara manusia yang sehat dan manusia yang tidak sehat. Tetapi apabila kita
memikirkan segi-segi psikologis dari aktualisasi diri, maka jelas ada
perbedaan.
Rogers berpendapat bahwa manusia memiliki dorongan yang
dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan hasil dari ciptaan yang sangat penting
adalah diri orang sendiri. Aktualisasi diri ditentukan oleh kekuatan-kekuatan
sosial dan bukan oleh kekuatan-kekuatan fisiologis.
Pemikiran Rogers sangat dipengaruhi oleh Angyal yang
menekankan bahwa ciri khas kehidupan adalah bergerak kearah peningkatan
kemandirian, pengaturan diri sendiri, dan otonomi serta bebas dari kontrol
luar.
Dalam menekankan tendensi aktualisasi diri, Rogers
menekankan beberapa ide:
-
Tendensi aktualisasi adalah kekuatan motivasi utama dari organisme manusia
-
Tendensi aktualisasi adalah fungsi dari seluruh organisme bukan hanya satu
bagian dari organisme
-
Tendensi aktualisasi merupakan suatu konsepsi motovasi yang luas.
-
Hidup adalah suatu proses yang aktif dan bukan pasif.
-
Manusia memiliki kapasitas dan tendensi atau motivasi untuk
mengaktualisasikan diri.
2. Peranan positive regard dalam
kepribadian individu
Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan
merembes, dimiliki semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari positive
regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan
kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan
persetujuan dari orang-orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan
dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan
tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah
kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
Penghargaan positif bersyarat” (conditional positive
regard) Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap
tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditonal positive regard
maka dia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu
diambil alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.
Syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah
penerimaan “penghargaan positif tanpa syarat” (unconditional positive regard)
pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih
sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih
sayang yang diberikan dengan bebas ini, dan sikap yang ditampilkannya bagi anak
itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan, sama seperti
halnya sikap-sikap ibu yang memperlihatkan conditional positive regard
diinternalisasikan oleh anaknya.
3. Ciri-ciri orang yang berfungsi
sepenuhnya
Rogers memusatkan perhatiannya pada cara-cara
bagaimana penilaian orang-orang terhadap individu, khususnya selama masa
kanak-kanak, cenderung memisahkan pengalaman-pengalaman organisme dan
pengalaman-pengalaman diri.
Apabila penilaian-penilaian ini semata-mata bernada
positif, yang oleh Rogers disebut unconditional positive regard atau
penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak akan terjadi pemisahan atau
ketidaksesuaian antara organisme dan diri. Rogers berkata: “apabila individu
hanya mengalami penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak akan ada
syarat-syarat penghargaan, harga diri akan menjadi tanpa syarat,
kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan positif dan harga diri tidak akan berbeda
dengan penilaian organismik dan individu akan terus berpenyesuaian baik secara
psikologis dan akan berfungsi sepenuhnya”.
Tiga dalil Rogers tentang bagaimana keretakan antara
diri dan organisme, serta antara aku dan orang-orang lain dapat disembuhkan,
yaitu:
-
Dalam kondisi-kondisi tertentu, terutama pada saat ancaman terhadap
struktur diri sama sekali tidak ada, pengalaman-pengalaman yang tidak konsisten
dengan struktur diri itu mungkin diamati, dan diperiksa, dan struktur dirinya
disesuaikan untuk mengasimilasikan dan memasukan pengalaman-pengalaman
tersebut.
-
Apabila individu mempersepsikan dan menerima segala pengalaman sensorik dan
viskeralnya ke dalam satu sistem yang konsisten dan terintegrasi, maka ia pasti
lebih memahami orang-orang lain dan lebih menerima orang-orang lain sebagai
individu-individu yang berbeda.
-
Apabila individu mempersepsikan dan menerima lebih banyak lagi
pengalaman-pengalaman organiknya ke dalam struktur dirinya, maka ia akan menemukan bahwa dirinya tengah mengganti
sistem nilainya sekarang –yang sebagian besar didasarkan pada
introyeksi-introyeksi yang dilambangkannya secara menyimpang- lewat proses
penilain yang berlangsung secara terus-menerus.
·
Pendapat maslow
Maslow berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian
yang sehat, apabila dia telah mampu untuk mengaktualisasikan dirinya secara
penuh (self actualizing person). Dia mengemukakan teori motivasi bagi self
actualizinga-needs person, dengan nama metamotivation, meta-needs B-motivation,
atau being values (kebutuhan untuk berkembang). Sementara motivasi bagi orang
yang tidak mampu mengaktualisasikan dirinya
dinamai D-motivation atau deficiency. Di bawah ini ciri-ciri
dari metaneeds dan metapologi
-
Metanees :
Sikap percaya, bijak dan baik, indah (estetis), kesatuan (menyeluruh), energik
dan optimis, pasti, lengkap, adil dan altruis, berani, sederhana (simple)
-
Metapologis
: Tidak percaya, sinis dan skeptic, benci dan memuakkan, vulgar dan mati rasa,
disintegrasi, kehilangan semangat hidup, pasif dan pesimis, kacau dan tidak
dapat diprediksi, tidak lengkap dan tidak tuntas, suka marah-marah, tidak adil
dan egois, rasa tidak aman dan memerlukan bantuan, sangat komplek dan
membingungkan
Mengenai self-actualizing person,atau orang yang sehat
mentalnya, Maslow mengemukakanciri-cirinya sebagai berikut:
1)
Mempersepsi
kehidupan atau dunianya sebagaimana apa adanya, dan merasa nyaman dalam
menjalaninya
2)
Menerima
dirinya sendiri, orang laindan lingkungannya.
3)
Bersikap
spontan, sederhana, alami, bersikap jujr, tidak dibuat-buat dan terbuka.
4)
Mempunyai
komitmen atau dedikasi untuk memecahkan masalah di luar dirinya (yang dialami
orang lain).
5)
Bersikap
mandiri atau independen.
6)
Memiliki
apresiasi yang segar terhadap lingkungan di sekitarnya
7)
Mencapai
puncak pengalaman, yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami kegembiraan
yang luar biasa. Pengalaman ini cenderung lebih bersifat mistik atau keagamaan
8)
Memiliki
minat social, simpati, empati dan altruis
9)
Sangat
senang menjalin hubungan interpersonal (persahabatan atau persaudaraan) dengan
orang lain
10) Bersikap demokratis (toleran, tidak
rasialis, dan terbuka)
11) Kreatif (fleksibel, spontan, terbuka
dan tidak takut salah).
Pandangan maslow tentang hakikat manusia yaitu manusia
bersifat optimistik, bebas berkehendak, sadar dalam memilih, unik, dapat
mengatasi pengalaman masa kecil, dan baik. Menurut dia kepribadian itu
dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Dalam kaitannya dengan peran
lingkungan, khususnya di sekolah dalam mengembangkan self-actualization, Maslow
mengemukakan beberapa upaya yang sebaiknya membantu siswa menemukan
identitasnya (jati dirinya) sendiri. Diantaranya:
1) Membantu siswa untuk mengeksplorasi pekerjaan
2) Membantu siswa untuk memehami keterbatasan (nasib)
dirinya
3) Membantu siswa untuk memperoleh pemahaman tentang
nilai nilai
4) Membantu siswa agar memahami bahwa hidup ini berharga
5) Mendorng siswa agar mencapai pengalaman puncak dalam
kehidupannya
6) Memfasilitasi siswa agar dapat memuaskan kebutuhan
dasarnya (rasa aman, rasa berharga, dan rasa diakui).
Erich Fromm
Erich Fromm yang pernah menuliskan “kita adalah orang-orang
yang harus menjadi sesuai dengan keperluan-keperluan masyarakat dimana kita
hidup”. Karena kekuatan-kekuatan sosial dan kultur begitu penting, fromm
percaya bahwa perlu menganalisis struktur masyarakat. Jadi kodrat masyarakat
adalah kunci untuk memahami dan mengubah kepribadian manusia. Apakah suatu
kepribadian itu sehat atau tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang membantu
atau mengambat pertumbuhan dan perkembangan manusia yang positif.
Fromm memberikan suatu gambaran yang jelas tentang
kepribadian yang sehat. Orang yang demikian mencintai sepenuhnya, kreatif,
memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia
dan diri secara objektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat,
berhubungan dengan dan berakar didunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib,
dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang. Akan tetapi ada salah satu
pengertian dimana kepribadian sehat dan produktif benar-benar menghasilkan
sesuatu dan merupakan hasil yang sangat penting dari individu, yakni diri.
Orang-orang sehat menciptakan diri mereka dengan melahirkan semua potensi
mereka, dengan menjadi semua menurut kesanggupan mereka dan memenuhi semua
kapasitas mereka.
·
Pendapat fromm
1. Pengertian teori Fromm
Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret
1990. Ia belajar psikologi di University Heidelberg, Frankfurt, dan Munich.
Setelah memperoleh gelar Ph.D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar
psikoanalisis di Munich dan pada Institut psikoanalisis Berlin yang terkenla
waktu itu. Tahun 1933 ia pindah ke Amerika Serikat dan mesngajar di Institut
psikoanalisis Chicago dan melakukan praktik privat di New York City. Ia pernah
mengajar pada sejumlah universitas dan institut di negara ini dan di Meksiko.
Terakhir, Fromm tinggal di Swiss dan meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal
18 Maret 1980.
Sebelum mengulas tentang teori kepribadian dari Fromm,
beberapa pengalaman mempengaruhi pandangan Fromm, antara lain pada umur 12
tahun ia menyaksikan seorang wanita cantik dan berbakat, sahabat keluarganya,
bunuh diri. Fromm sangat terguncang karena kejadian itu. Tidak ada seorang yang
memahami mengapa wanita tersebut memilih bunuh diri. Ia juga mengalami sebagai
anak dari orangtua yang neurotis. Ia hidup dalam satu rumah tangga yang penuh
ketegangan. Ayahnya seringkali murung, cemas, dan muram. Ibunya mudah menderita
depresi hebat. Tampak bahwa Fromm tidak dikelilingi pribadi-pribadi yang sehat.
Karena itu, masa kanak-kanaknya merupakan suatu laboratorium yang hidup bagi
observasi terhadap tingkah laku neurotis. Peristiwa ketiga adalah pada umur 14
tahun Fromm melihat irrasionalitas melanda tanah airnya, Jerman, tepatnya
ketika pecah perang dunia pertama. Dia menyaksikan bahwa orang Jerman
terperosok ke dalam suatu fanatisme sempit dan histeris dan tergila-gila.
Teman-teman dan kenalan-kenalannya terpengaruh. Seorang guru yang sangat ia
kagumi menjadi seorang fanatik yang haus darah. Banyak saudara dan
teman-temannya yang meninggal di parit-parit perlindungan. Ia heran mengapa
orang yang baik dan bijaksana tiba-tiba menjadi gila. Dari
pengalaman-pengalaman yang membingungkan ini, Fromm mengembangkan keinginan
untuk memahami kodrat dan sumber tingkah laku irasional. Dia menduga hal itu
adalah pengaruh dari kekuatan sosio-ekonomis, politis, dan historis secara
besar-besaran yang mempengaruhi kodrat kepribadian manusia.
Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan Karl Marx, terutama
oleh karyanya yang pertama, The Economic and Philosophical Manuscripts yang
ditulis pada tahun 1944. Fromm membandingkan ide-ide Freud dan Marx,
menyelidiki kontradiksi-kontradiksinya dan melakukan percobaan yang sintesis.
Fromm memandang Marx sebagai pemikir yang lebih ulung daripada Freud dan
menggunakan psokoanalisa, terutama untuk mengisi celah-celah pemikiran Marx.
Pada tahun 1959, Fromm menulis analisis yang sangat kritis bahkan polemis
tentang kepribadian Freud dan pengaruhnya, sebaliknya berbeda sekali dengan
kata-kata pujian yang diberikan kepada Marx pada tahun 1961. Meskipun Fromm
deapat disebut sebagai seorang teoritikus kepribadian Marxian, ia sendiri lebih
suka disebut humanis dialetik. Tulisan-tulisan Fromm dipengaruhi oleh
pengetahuannya yang luas tentang sejarah, sosiologi, kesusastraan, dan
filsafat.
2. Kepribadian yang sehat menurut
Fromm
Kepribadian sehat menurut Eric from adalah penyesuaian diri
seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuahn batin
dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi
harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan
di cintai dalam bukunya Art Of Love erik Fromm mengutarakan :
Dalam Civilization and Its Discontents (1930), seperti
dikutip oleh Eric Fromm dalam Masyarakat yang Sehat (Terjemahan Thomas Bambang
Murtianto, 1995) ia menulis:
“Manusia, setelah menemukan lewat pengalamannya bahwa cinta
seksual (genital) memberinya kepuasan puncak, maka makna cinta seksual-genital
menjadi prototipe bagi semua bentuk kebahagiaan manusia. Karenanya manusia
terdorong mencari kebahagiaan yang ada kaitannya dengan hubungan seks,
menempatkan erotisme genital sebagai titik pusat kehidupannya…. Dengan
melakukan itu manusia menjadi sangat tergantung pada dunia luar, pada obyek
cinta pilihannya, atau sungguh merasa kehilangan bila ditinggal mati atau
ditinggal kabur.”
kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif. Konsep itu
menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia.
Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan
suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan,
renspons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang,
benda-benda, dan peristiwa- peristiwa didunia dan terhadap diri.
3. Ciri-ciri kepribadian yang sehat
Cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan,
dan suara hati.
Karena cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang
menantang perhatian, tanggung jawab, respek dan pengetahuan. Mencintai
orang-orang lain berarti memperhatikan (dalam pengertian memelihara mereka),
sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan mereka, dan membantu pertumbuhan
dan perkembangan mereka.
Hal ini berarti memikul tanggung jawab untuk orang-orang
lain, dalam pengertian mau mendengarkan kebutuhan-kebutuhan mereka juga
orang-orang yang dicintai dipandang dengan respek dan menerima individualitas
mereka, mereka dicintai menurut siapa dan apa adanya. Dan untuk menghormati
mereka, kita harus memiliki pengetahuan penuh terhadap mereka, kita harus
memahami mereka siapa dan apa secara objektif.
Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan
objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap
objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
Fromm percaya bahwa semua penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran
objektif, dimana pemikir-pemikir didorong oleh ketelitian, dan perhatian untuk
menilai secara objektif seluruh masalah.
Kebahagiaan merupakan
prestasi (kita) yang paling hebat. Fromm membedakan dua tipe suara hati
otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari
luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Penguasa
itu dapat berupa orang tua, Negara, atau suara kelompok lainnya yang mengatur
tingkah laku melalui ketakutan orang itu terhadap hukuman karena melanggar kode
moral dari penguasa. Suara hati humanistis ialah suara dari diri dan bukan dari
suatu perantara dari luar. Pedoman kepribadian sehat untuk tingkah laku
bersifat internal dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang
cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyingkap seluruh kepribadian, tingkah
laku-tingkah laku yang menghasilkan rasa persetujuan dan kebahagiaan dari
dalam. Jadi, kepribadian yang sehat dan produktif memimpin dan mengatur diri
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar