Jumat, 21 April 2017

Analisis Kasus Logoterapi

Contoh kasus:
Kasus insomnia

Nyonya R berusia 49 tahun, dirawat karena selalu merasa murung dan sulit tidur. Ny. R adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara dari sebuah keluarga ningrat dan menjadi kesayangan keluarga. Waktu ia kuliah, sekitar usia dua puluh tahun ia punya pacar yang sangat dicintainya. Hampir tiga tahun mereka berpacaran secara sembunyi - sembunyi karena orang tua tidak setuju karena pemuda itu berasal dari keluarga yang bukan keturunan ningrat, akhirnya keduanya terpaksa memutuskan hubungan mereka atas tuntutan keras orang tua.

Sejak saat itu Nyonya R merasa hidupnya "ngambang" dan "kosong" serta merasa tak ada lagi kebahagiaan lagi dalam hidupnya. Hal itu secara sadar diatasi dengan bekerja sebaik mungkin sehingga ia dikenal dengan rekan - rekannya sebagai karyawati yang pandai dan berprestasi dan sekarang menduduki posisi penting di kantornya. Terhadap pria minatnya seakan - akan hilang dan beberapa kali mengabaikan saran orang tua untuk berkeluarga dengan berbagai alasan. Akhirnya, waktu usia masuk 30 tahun, orang tua menikahkannya dengan seorang duda berusia 46tahun yang istrinya meninggal. Merreka masih ada kaitan keluarga (keturuan ningrat). Waktu itu nyonya R terpaksa menyetujui untuk menikah, mengingat orang tuanya sudah lanjut usia. Sekalipun sudah memiliki tiga orang anak, nyonya R terus terang mengatakan bahwa ia sebenarnya rak begitu mencintai suaminya dan penyesuaian diri diantara mereka mulai membaik setelah 5tahun perkawinan.

Sejak 2tahun yang lalu, nyonya R mengalami sulit tidur, ia tidur paling lama 1 sampai 2 jam, itupun tidak pernah nyenyak. Kalaupun tidur, sering mengalami mimpi-mimpi menakutkan sehingga bangun dengan rasa cemas dan berkeringat. Dia benar-benar ingin bisa tidur dan membayangkan betapa nikmatnya tidur nyenyak tetapi hal itu harus diserrtai kecemasan kalau-kalau mengalami mimpi yang mengerikan seperti yang sering dialaminya.

Analisis kasus:
Dari kasus diatas dapat menggunakan logoterapi, dengan menggunakan de-reflection terapi. Pertama ibu R ini harus dapat membaskan diri dari rasa tertekan dan terpaksa yang telah ia lewat selam hiduonya tersebut. Ibu R bisa memfokuskan diri ke hal – hal yang positif agar dapat dengan mudah melupakan rasa yang ia derita, sehingga rasa tersebut bisa menghilang dengan sendiri, maupun tidak dengan waktu yang cepat. Ibu R dapat melakukan hal-hal positif yang berasal dari kemampuan pribadi ibu R, sehingga ibu R dapat menjalankan kegiatan positif itu dengan senang hati tanpa beban dan daapt melupakan perasaan tidak tenang yang telah dialami ibu R.
Sumber:
http://satiararas.blogspot.co.id/2016/04/contoh-kasus-logoterapi.html

Logotherapy, Rational Therapy, Terapi kelompok, Terapi perilaku

1.Logoterapi (Frankl)
·         Konsep dasar
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat  manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni

1.       Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
-          Kebebasan yang bertanggungjawab.
-          Kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-
        kondisi tersebut.
-          Kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
        hidupnya.

2.       Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977). Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.

3.       Makna Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
   ·         Unsur – unsur Terapi\
- Munculnya gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki keinginan terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan berharga. Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan, yaitu:
-        Frustasi eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga kehampaan
      eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992, exsistential frustration adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
-        Neurosis noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini untuk membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis yang bersumber pada konflik-konflik psikologis.

    ·         Teknik – teknik terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
-           Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
-           De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan mengalihkan perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan tanpa memperdulikan kepuasan individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan.

2. Rational emotive therapy
         ·      Konsep dasar
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
- Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
- De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan mengalihkan perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan tanpa memperdulikan kepuasan individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan.
   ·         Unsur – unsur terapi
Ø  Aktif-direktif
a)      Dalam hubungan konseling lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalah
Ø  Kognitif-eksperiensial
b)      Hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional
Ø  Emotif-eksperiensial
c)      Hubungan yang dibentuk juga melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
Ø  Behavioristik
d)     Hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan perilaku dalam diri kliennya
Ø  Kondisional
e)      Hubungan dalam terapi rasional – emotif dilakukan dengan membuat kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan terapi konseling.

Teknik – teknik terapi

1.        Teknik Emotive
Menurut Corey (1995) ada beberapa teknik emotif, yaitu :
-  Assertive training
Yaitu melatih dan membiasakan klien terus menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
- Sosiodrama
Yaitu mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan klien (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapan dirinya sendiri baik secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
-  Self modeling
Yaitu menghilangkan perilaku tertentu, dimana konselor menjadi model dan klien berjanji akan mengikuti.
2.        Teknik Behavioristik
Ada dua teknik behavioristik yaitu :
-  Reinforcement
Yaitu mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal kepadanya.
-  Social modeling
Yaitu menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
3.        Teknik Kognitif
Teknik kognitif yang cukup dikenal adalah Home Work Assigment atau teknik tugas rumah, digunakan agar klien dapat membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntun pola perilaku yang diharapkan (Corey, 1995).

3. Terapi kelompok
       ·         Konsep dasar
Terapi kelompok memandang bahwa manusia itu makhluk yang unik, dan dinamis, setiap                 manusia memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap manusia memiliki problem yang berbeda-           beda, oleh karena itulah setiap orang tidak sama dalam menangani suatu pemecahan masalah.
       ·         Unsur – unsur terapi
munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis
 a. Munculnya gangguan
            Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
b. Tujuan terapi
    - Meningkatkan identitas diri
    - Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis
    - Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
   - Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
 c. Peran terapis
    Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.

        ·         Teknik – teknik terapi
- Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif
  - Terapis turut membantu klien untuk melepaskan segala kecanggungannya, agar lebih

        bisa terbuka dan menceritakan masalah yang dialaminya.

     - Berfokus pada satu topik permasalahan yang hendak diselesaikan pertama kali.


B. Terapi keluarga

1. Konsep dasar: Pandangan terapi keluarga tentang kepribadian
    Terapi keluarga mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia pertama kalinya dibentuk didalam lingkaran keluarga.
2. Unsur-unsur terapi: munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis.
    a. Munculnya gangguan
        Terapi keluarga digunakan ketika permasalahan terkait dengan keluarga, seperti suami dengan istri- orang tua dengan anaknya, atau antar saudara.
  b. Tujuan terapi
        - Menurunkan konflik kecemasan keluarga
        - Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing-masing keluarga
        - Meningkatkan hubungan peran yang sesuai
        - Membantu keluarga untuk menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar   keluarga
     c. Peran terapis
         Terapis melakukan pemahaman tentang arti dan peran dari masing-masing 
         keluarga, serta membantu untuk meningkatkan peran serta keluarga agar kuat dalam menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga.
C. Terapi bermain
    1. Konsep dasar: Pandangan terapi bermain terhadap kepribadian
        Terapi ini lebih cocok diberikan kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus,
        pandangan terapi bermain adalah setiap anak yang mempunyai kebutuhan khusus
        memiliki kepribadian yang relatif sama hanya penanganannya yang berbeda.
   2. Unur-unsur terapi: Munculnya gangguan, tujuan terapi, peran terapis.
       a. Munculnya gangguan
           Terapi diberikan ketika seorang anak mengalami gejala-gejala yang lain daripada    anak lainya seperti hyperaktif.
       b. Tujuan terapi
            Mengembangkan gerak seorang anak (psyhcomotorik) serta adaptasi sosial           seorang anak
        c. Peran terapis
             Terapis turut serta dalam permainan anak.
4.       Terapi perilaku
·       Konsep dasar
Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory) yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders, phobias, dengan memakai tehnik yang didesain menguatkan kembali perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.
Pada tahun 1920, Watson dkk melakukan percobaan pengkondisian (conditioning) dan pelepasan kondisi (deconditioning) pada rasa takut yang merupakan cikal bakal terapi perilaku formal.  Pada tahun 1927, Ivan Pavlov terkenal dengan percobaannya pada anjing dengan  memakai suara bell untuk mengkondisikan anjing bahwa bel sama dengan makanan, yang kemudian dikenal juga dengan istilah “stimulus” dan “respon”.
Terapi perilaku pertama kali ditemukan pada tahun 1953 dalam proyek penelitian oleh BF Skinner, Ogden Lindsley, dan Harry C. Salomo. Selain itu, termasuk juga Wolpe Yusuf dan Hans Eysenck.
Secara umum, terapi perilaku berasal dari tiga Negara, yaitu Afrika Selatan (Wolpe), Amerika Serikat (Skinner), dan Inggris (Rachman dan Eysenck) yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam melihat masalah perilaku. Eysenck memandang masalah perilaku sebagai interaksi antara karakteristik kepribadian, lingkungan, dan perilaku.
Di Amerika Serikat Skinner dkk. menekankan pada operant conditioning yang menciptakan sebuah pendekatan fungsional untuk penilaian dan intervensi berfokus pada pengelolaan kontingensi seperti ekonomi dan aktivasi perilaku.
Ogden Lindsley merumuskan precision teaching, yang mengembangkan program grafik (bagan celeration) standar untuk memantau kemajuan klien.
Skinner secara pribadi lebih tertarik pada program-program untuk meningkatkan pembelajaran pada mereka dengan atau tanpa cacat dan bekerja dengan Fred S. Keller untuk mengembangkan programmed instruction. Program ini dicoba ke dalam pusat rehabilitasi Aphasia dan berhasil. Gerald Patterson menggunakan program yang sama untuk mengembangkan teks untuk mengasuh anak-anak dengan masalah perilaku.
Terapis behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian utama dari para terapis sebagai kriteria pengukuran keberhasilan terapi. Manusia menurut pandangan ini bukan hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses terapi merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Terdapat beberapa teori dasar mengenai metode terapi perilaku, yaitu :
a.       Perilaku maladaptif dan kecemasan persisten telah dibiasakan (conditioned) atau dipelajari (learned).
b.      Terapi  untuk perilaku maladaptif adalah dengan penghilangan kebiasaan (deconditioning) atau ditinggalkan (unlearning).
c.       Untuk menguatkan perilaku adalah dengan pembiasaan perilaku (operant and clasical conditioning).

   ·         Unsur – unsur terapi
 1)      Munculnya Gangguan
Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.
2)      Tujuan Terapi
Terapi behavioral  memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku spesifik atau perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif.
3)     Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.

·         Teknik – teknik terapi
.       Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning.
2.       Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.
3.      Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan.
4.      Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka.
5.      Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.



Sumber :