Minggu, 08 November 2015

Tugas 2 softskill. Fenomena indentitas diri melalui internet

     1.     Fenomena Indentitas Diri Melalui Internet

Melalui identitas online konsisten dengan teori-teori pembentukan sosial. Identitas online dapat digunakan untuk mengeksplorasi aspek-aspek diri, memfasilitasi kesadaran diri yang lebih besar dan menjadi katalis untuk perubahan positif. Bahkan identitas online justru memfasilitasi flexible selves seseorang yang merupakan adaptasi yang wajar dan perwujudan eksplorasi diri.
Contoh kasus, maraknya akun-akun palsu di media sosial yang mempunyai daya pengaruh kuat (di Twitter, misalnya Benny Israel). Selain itu, muncul gerakan Anonymous di media sosial. Belum lagi dengan Net-Terrorist yang doyan merusak dan mencari masalah di internet. Hal ini yang justru melahirkan ketidakpercayaan. Di internet, kita bisa kelihatan jati diri kita tapi juga bisa menyembunyikan jati diri kita. Lain contoh adalah kejahatan maupun penipuan online, melalui Facebook yang selama ini marak. Fenomena kepribadian ganda juga bisa masuk di sini.

Dunia virtual memang bukan dunia real. Kartunis Peter Steiner pernah mengirim karikatur seekor anjing sedang bermain internet dan dipublikasikan di The New Yorker, 5 Juli 1993 dengan tulisan “On the internet, nobody knows you’re a dog.” Sementara itu, pemikir Prancis Jean Baudrillard menandaskan dunia sekarang semakin masuk ke hipperrealitas di mana kita tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang bukan. Perasaan kita bisa turut lebih hanyut pada penderitaan tokoh dalam sinetron yang notabene tidak nyata daripada tersentuh dengan nasib tetangga yang nyata ada dan sedang kena musibah. Psikolog John Suler, seperti dikutip dari buku “Facebook and Philosophy: What’s on Your Mind?” (2010), mengatakan bahwa dunia online telah memicu “disinhibition effect” di mana orang lebih gampang menampilkan kesejatian dirinya (self-disclose) bila dibanding dalam dunia nyata. Di sini, orang bisa mengeluarkan semua isi hati, kekesalan, kritikan, komentar provokatif, dan sebagainya.


     2.     Aspek Demografis Diri Individu Pengguna Internet.

Aspek demografis adalah aspek yang harus mempertimbangkan gender, usia, budaya, dan SES (social-economic-status) dalam interaksi individu dan internet. Dalam hal ini usia juga turut mempengaruhi perkembangan internet karna internet banyak berkembang di masa ini sehingga sebagian besar pengguna internet berasal dari kalangan muda. Selain itu dalam hal gender teknologi internet dapat mempermudah bagi wanita untuk melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, bahkan dengan teknologi internet ini juga bisa membantu para wanita untuk memasuki dunia politik, dan bisnis, bahkan menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi.
 A.Gender
1. Wanita
Pengaruh gender di internet pada umumnya wanita yang sering bermain dengan internet, misalnya facebook, twitter dan lain-lain. Wanita selalu memposting lebih banyak daripada pria, karena wanita terlalu sensitive pada apa yang sedang terjadi dan sangat emosional. 

2. Pria
Pada pria lebih cenderung ke forum atau game online. Pria juga senang berjam-jam untuk melakukan hal itu. Internet juga bisa membuat para pria terpengaruh oleh fashion jaman sekarang.

B.Usia
Internet juga sangat berpengaruh di semua kalangan usia, baik anak – anak , remaja, ataupun orang dewasa. Internet bisa jadi sangat bermanfaat untuk anak muda tau remaja, namun internet juga bisa dapaet memberikan efek negatif pada remaja atau anak – anak bila tidak dapat mengendalikan dan menggunakan internet dengan baik dan benar. Pemanfaatan internet harus disesuaikan dengan usia agar dapat memenerikan manfaat yang positif dan tidak menimbulkan efek negatif bagi anak – anak khususnya.

USIA 4 S/D 7 TAHUN
Pada usia ini anak mulai tertarik untuk mengetahui segala sesuatu sendiri, peran orang tua pada usia ini sangat penting agar dapat melindungi dan mendapingi anak dalam menggunakan internet. Dalam usia 4 – 7 tahun orang tua juga harus memberikan batasan – batasan anak dalam membuka situs –situs yang dapat dikunjungi, dan orang tua harus dapat memberikan saran yang baik unutk ankanya mana situs yang baik atau tidak unutk dibuka oleh anaknya.

USIA 7 S/D 10 TAHUN
Pada usia ini anak sudah ada keinginan untuk mencari informasi dan kehidupan sosial didalam keluarganya, dimana anak sudah banyak berinteraksi kepada sesama temannya untuk menanyakan sesuatu yang merakaingin tahu. Pada usia ini peran orang tua unutk tetap mengontrol anak agar tidak menggunakan internet dalam jangka waktu yang berlebihan, dan tidak sesuai waktu yang sewajarnya, di usia ini anak sudah mengenail permainan game online yang dapat mengganggu fokus anka unutk belajar.

USIA 12 S/D 14 TAHUN
Pada usia ini anak anka sudah mulai akif untuk melkuakn komunikasi dan kehidupan sosialnya. Anak diusia ini sudah mulai tertarik unutk melakukan chat secara online. Masa ini peran orang tua juga penting untuk memberikan pengertian tentang media sosial yang dapat digunakan unutk melakuakn chat online. Pada masa ini juga orang tua unutuk bercerita dan berbagi informasi tentang hal –hal seksual pada anaknya.

USIA 14 S/D 17 TAHUN
Pada masa usia ini remaja sudah mulai metang secara fisik dan semakin tertarik unutk mencari infromasi secara mendalam di internet,  dan peran orang tua sudah mulai berkurang dan tidak terlalu melakuakn pengawasan yang terlalu ketat.

Dampak positif
      1.  Memudahkan anak mendapatkan onfromasi tentang apa yang mereka ingi ketehui dengan cepat      dan mudah.
      2.  Dapat mempermudah anak untuk menajlin komunikasi dengan berbagai orang dari belahan dunia  manapun yang mereka inginkan.
      3. Anak dapat menemukan aplikasi atuapun situs – situs yang dapat mengasah otak mereka ataupun  bentuk permainan yang ngasah otak dari berbagai belahan dunia.
       
      Dampak negatif
      1. Membuat anak menjadi malas untuk menemukan sesuatu yang meraka cari melalui buku, karena  sudah ketergantungan mencari lewat internet.
      2. Anak dapat ketagihan dengan permainan atau media sosial yang ada diinternet, dan menggangu  jam anak untuk belajar.
      3.Menjadikan anak menganggap mudah sesuatu yang ingin mereka tahu tanpa harus mencari dengan  kemajuan teknologi ini.
      4.Membuat anak malas untuk melakukan kontak sosial dengan teman sebayanya ataupun keluarga.

C. BUDAYA
Masuknya budaya dari luar sangatlah berpengaruh, dapat membentuk masyarakat yang majemuk, dinamis, dann akhhirnya membuat indentitas kebangsaan semakin kuatdan mengakar dalam benak masyarakat sehingga dapat memperkaya kekayaan culturan suatu bangsa.
Munculnya teknologi sebagai tuhan baru bagi para manusia komputeris akan membuat hilangnya budaya primordial yang menganggap kesakralan berada di tangan alam dan manusia itu sendiri. Tidak hanya itu, kondisi ‘autis’ para manusia komputeris ini juga membuat mereka tidak lagi peka terhadap kejadian sosial yang menimpa masyarakat lain.
Namun tak bisa ditampik karena kita memang harus mengakami kemajuan teknologi ini agar Indonesia sendiri tidak ketinggalan jaman dan teknologi ataupun penetahuan lainnya dengan negara – negara lain.

Dampak positif
      1. Dapat mempercepat untuk mengirimkan informasi
      2. Memudahkan pekerjaan kita.
      3.Mempersingkat waktu untuk mengetahui sebuha informasi.
      4.Membantu dalam melakukan pembelajran seperti adanya E-book dan V-class.

Dampak negatif
      1.Mudah masuknya budaya asing yang tidak baik.
      2.Membaut seseorang menajdi lupa waktu karena terlalu asik.
      3.Dapat menimbulkan kesajatan dalam bidang teknologi.

     3.     Kasus dari Internet Addiction Disorder

Internet Addiction Disorder atau kecanduan internet ini adalah penggunaan internet secara berleihan dalam kehidupan sehari – hari.

Contoh kasus :
Dengan emosi yang masih labil, remaja rentan mengalami gangguan jiwa. Bukan hanya asmara, hobi bermain game juga bisa membuat jiwanya terganggu. Di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol misalnya,sudah empat remaja yang dirawat karena kecanduan game online. Salah satunya kini masih dirawat di Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, RSJ Soeharto Heerdjan, atau yang lebih dikenal dengan nama RSJ Grogol karena terletak di kawasan Grogol, Jakarta Barat.
Remaja tersebut, sebut saja namanya Andi, sebenarnya anak yang berprestasi di sekolahnya. Masalahnya hanya satu, remaja berusia 17 tahun ini tidak pernah bisa lepas dari permainan video game yang memang sudah menjadi kegemarannya sejak masih kecil. Belakangan, saking asyiknya memainkan video game, Andi mulai menarik diri dari pergaulan dan sering bolos sekolah. Orangtua yang merasa khawatir berusaha melarang, namun ketika video gamenya diambil, maka Andi mulai kehilangan kontrol lalu ngamuk-ngamuk. "Pandangan matanya jadi hostile kalau dilarang main video game. Tatapannya memusuhi," tutur dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Grogol saat ditemui dalam kunjungan media di tempat kerjanya, Jumat (5/10/2012).
Kecanduan games tidak bisa dianggap sepele, terutama kalau sudah mempengatuhi perilaku. Menurut dr Suzy, gangguan jiwa psikotis yang ditandai dengan cara berpikir yang mulai kacau bisa juga berawal dari kecanduan games yang tidak ditangani dengan baik. Ditambahkan oleh dr Suzy, kasus Andi sudah termasuk gangguan jiwa psikotis karena sampai ngamuk-ngamuk kalau dilarang orangtuanya. Itu berarti keinginannya untuk selalu bermain video games telah mengganggu perilaku dan membuatnya gelisah sepanjang waktu."Perlu treatment itu kalau sudah mengganggu fungsi sehari-hari, misalnya nggak mau sekolah. Nggak mau sekolah itu merupakan kedaruratan psikiatri utama pada anak dan remaja," tambah dr Suzy.
Treatment atau penanganan yang diberikan di RSJ Grogol antara lain mencakup terapi perilaku dan kalau diperlukan juga akan diberikan obat-obatan antipsikotik. Andi termasuk bagus dalam merespons terapi, sehingga dalam tiga minggu masa perawatan perilakunya sudah lebih terkontrol, dan dalam waktu dekat bisa kembali ke rumah orangtuanya lagi.

 Cara menjegahnya :
1. Memberikan informasi kepada remaja terutama anak – anak bagaimana buruknya bila seseorang    sudah mengalami kacanduan internet, pemberian infromasi ini bisa dilakuakn oleh pihak sekolah  ataupun orang tua agar anak tidak terlalu membuang waktu nya dalam menggunakan internet.
      2. Mengetahui penyebab seseorang bisa menajdi kecanduan internet, seperti bila seseorang sudah  bermain game online ataupun chat online secara berlebihan dan melupakan kehidupannya sosial  yang sebenernya.
      3. Membatasi dalam penggunaan internet, orang tua harus dapat mengontrol anaknya dalam  menggunakan internet agar anak tidak beranggapan kalau menggunakan internet unutk bermain  atuapun yang lainnya merupakan kegiatan sehari – hari yang harus dilakukan.
      4.Meluangkan waktu untuk bersosialisasi, kita dapat mendapatkan kesenangan bersosialisasi dengan  lingkungan sekitar kita, seperti pergi kesuatu tempat dengan teman – teman dekat agar kita juga bisa  merasakan kehidupan selain menggunkan internet.

Solusi agar tidak menjadi kecanduan intenet

Agar tidak mengalami kecanduan internet, sebaiknya kita menyemimbangkan anatar waktu kita untuk menggunakan internat dan dimana kita untuk bersosialisasi dengan dunia luar. Sebaiknya kita juga tau apa akibat positif dan negatif bilakita menggunakan internet belebihan, dan bagi para orang tua sebaiknya juga tidak terlalu membaskan anak untuk dapat mengaksesinternet dengan mudah dan tanpa pantauan orang tua, agar anak itu sendiri tidak menyalah gunakan kebabasan dia unutk menggunakan internet untukk hal – hal yang negatif dan dapat membuat sang anak menjadi kecanduan internet.

 4.     Etika Dalam Penelitian Internet

Media sosial
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Etika dalam menggunakan media sosial
 Dalam melakukan apapun pasti kita memperlukan etika agar tidak menyalahi atuuran, begitu dengan menggunakan media sosial. Walaupun pada saat menggunakan media sosial kita tidak bertatap muka langsung dengan seorang yang sedang melakukan percakapan dengan kita tetapi kita juga harus memiliki etika dalam menggunakna media sosial tersebut, seperti :
1.      Menggunakan bahasa yang baik dan sopan
Bukan hanya dengan berbicaran kepada orang tua ataupun guru saja kita harus menggunakan bahasa yang baik dan sopan dalam menggunakan media sosial kitapun harus menggunakan bahsa ang sbaik dan sopan akrena kita tidak akan tahu bagaimana teman kita menanggapi bahasa kita, dengan pikiran yang  potif atau negatif akrena bisa saja dengan menggunakan bahasa yang kurang sopan dapat mengundang konflik yang dapat menjerumuskan pengguna media sosial.
2.      Menghargai sesama pengguna media sosial
Hal ini meruapakan hal yang paling penting pada saat kita menggunakan media sosial unutk berkomunikasi dengan orang lain, kadang banyak orang yang mengabaikan bagaimana cara untuk menghargai orang lain.  Cara menghargai orang lain dimedia sosial cukup dengan tidak berkomentar dengankata yang menyinggung atuapun menyakitinya,
3.      Berpikir akibat dari sesuatu yang akan kita share
Banyak orang tidak berpikir jangaka panjang apa yang akan meralakukan bila mengeshare suatu postan itu akan menyinggung tau menyakiti orang lain atau tidak, hal ini penting untuk berpikir sebelom kita mengeshare sesuatu di media sosial,karena orang lain bisa aja beranggapan salah dnegan sesuatu yang kita share itu. Walapun ini sepele tapi ini bisa berakibat fatal bilakita mengabaikannya.
4.      Tidak terlalu overposting
Remaja umunya selalu inign melakukan segala sesuatunya dengan mengeshare dahulu dalam mediasosial agaroranglain mengetahui aktifitasnya, hal ini hars dipikirkan dahulu karena belom tentu informasi yang kita share itu membuat orang lain menjadi nyaman atau menganggap anda menajdi orang yang keren, tetapi bisa saja membaut orang lain tidak nyaman dengan postingan kita yang teralau berlebihan.
5.      Tidak terlalu memposting hal pribadi dimedia sosial
Memposting tentang perasaan percintaan, keadaan kehidupan kita, msalah keluarga atau apapun yang bersifat pribadiyang seharusnyahanya ktia dana sebgaian orang saja yang mengetahuinya,  karena hal ini juga bisa saja membuat seseorang melakukan kejahatan kepada kita, seperti penculikan, pemerasan, dll.
6.      Tidak memposting hal – hal yang berunsur SARA atau menyudutkan oang lain.
Kita seharusnya mengerti karena media sosial itu dapat dilihat semua orang yang kita kenal walapun yang tidak kita kenal, karena bila kita memposting sesuatu yang dapat memojokan suatu hal seperti Ras, ataupun Agama bisa membuat orang lain tersinggung, walaupun kita tidak berniat unutng meyinggung orang tersebut.

         5.   Faktor – faktor mengapa seseorang menjadi plagiat :

1. Kesuntukan masa dan tiada idea dalam menyiapkan sesuatu tugasan 
2. Tiada kemahiran dalam melakukan penyelidikan 
3. Sikap mereka yang melakukan plagiat itu sendiri
4. Kurang pendedahan tentang plagiat dan undang-undang hak cipta
5. Adanya kemalasan pada diri sendiri.
6. keinginan untuk menghindari kegagalan.
7. penyalahgunaan teknologi komputer
8. Tidak tahu batasan dan sanksi plagiat.
9. Tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri.
10. Kesulitan unutk mencari buku refrensi.

Upaya agar seseorang tidak menjadi plagiat :
      1.Adanya kejujuran dari penulis
      2.Mengakui  karya orang lain
      3.Para pendidik mencegah plagiarisme
      4.Adanya program unutk menignkatkan niat membaca


Daftar pustaka :
      3. http://respatiagungprabowo.blogspot.co.id/2014/12/internet-addiction-disorder-iad.html