TUGAS
KREATIVITAS & KEBERBAKAT
Disusun Oleh :
Nama : 1. Destika Nastiti (12514786)
2. Mutia Damayanti (17514666)
3. Putri Indah Larasati (18514604)
4. Tita Rahmi Priwanti (1D514116)
Kelas : 1PA16
Dosen : Tri
Maryani
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2014/2015
A.
Teori – Teori Pendorong Kreativitas
1.
Motivasi Intrinsik
untuk Kreativitas
Setiapindividu
memiliki kecenderungan atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya,
dorongan berkembang menjadi matang, doronganmengungkapkan dan mengaktifkan
semua kapasitasnya.
Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas
ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru denganlingkungannya dalam
upaya menjadi dirinya
sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982)
2.
Kondisi Eksternal
yang Mendorong Perilaku Kreativitas
Kretaivitas memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus
dimungkinkan untuk tumbuh, bibit unggul memerlukan kokdisi yang memupuk dan
memungkinkan bibit itu mengembangkan sendiri potensinya.
Bagaimana cara menciptakan lingkungan eksternal yang
dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal) untuk mengembangkan
kreativitasnya?
Menurut
pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi
keamanan dan kebebasan psikologis.
1)
Keamanan psikologis
Ini dapat terbentuk dengan 3 proses yang saling
berhubungan:
a.
Menerima
individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
b.
Mengusahakan
suasana yang didalamnya evaluasi
eksternal tidak ada / tidak mengandung efek mengancam. Evaluasi selalu mengandung
efek mengancam yang menimbulkan kebutuhan akan pertahanan ego.
c.
Memberikan pengertian
secara empatis
Dapat
menghayati perasaan-perasaan anak, pemikiran-pemikirannya, dapat melihat dari
sudut pandang anak dan dapat menenrimanya, dapat memberikan rasa aman.
2) Kebebasan
psikologis
Apabila
guru mengijinkan atau memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan
secara simbolis (melalui sajak atau gambar) pikiran atau perasaannya. Ini berarti memberi kebebasan dalam berfikir atau merasa apa yang ada dalam
dirinya.
B.
Teori – Teori Proses Kreatif
1.
Teori Wallas
Wallas
dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4
tahap :
1. Tahap
Persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan
data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari orang lain, bertanya kepada
orang lain.
2. Tahap
Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan
diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut
secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
3. Tahap
Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “Insight” atau “Aha Erlebnis”,
saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
4. Tahap
Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut
terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses
divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran
kritis).
2.
Teori tentang
Belahan Otak Kanan dan Kiri
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi, selanjutnya
baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan. Hampir
setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa
menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian
orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “Dichotomia” yang membagi fungsi mental menjadi fungsi
belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih
memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
DIKOTOMI FUNGSI MENTAL
|
Belahan Otak Kiri
|
Belahan Otak Kanan
|
|
Intelek
|
Intuisi
|
|
Konvergen
|
Divergen
|
|
Intelektual
|
Emosional
|
|
Rasional
|
Metaforik, intuitif
|
|
Verbal
|
Non Verbal
|
|
Horizontal
|
Vertikal
|
|
Konret
|
Abstrak
|
|
Realistis
|
Impulsif
|
|
Diarahkan
|
Bebas
|
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
|
Sekuensial
|
Multiple
|
|
Historikal
|
Tanpa Batas Waktu
|
|
Analitis
|
Sintesis, Holistik
|
|
Eksplisit
|
Implisit
|
|
Objektif
|
Subjektif
|
|
Suksesif
|
Simultan
|
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981
C.
Belajar Kreatif
1.
Pengertian Belajar
Kreatif
Belajar
kreatif adalah pembelajaran yang menstimulasi siswa untuk mengembagkan
gagasannya dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada. Pembelajaran yang
kreatif mengandung makna yang tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan
kurikulum.
2.
Liputan Proses
Belajar Kreatif
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang guru yang profesional dalam menyusun
program pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar :
1).
Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
a.
Memberikan pemanasan
Sebelum
memulai dengan kegiatan yang berperilaku kreativitas sesuai dengan rencana
pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di kalangan siswa,
terutama berlaku apabila siswa selanjutnya baru saja terlibat dalam suatu
penguasaan yang berstruktur, mengerjaan soal fiqih, tugas atau kegiatan,
bertujuan untuk meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang
berbeda lebih terbuka dan tertantang berperan serta secara aktif dengan
memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang
dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat
dan rasa ingin tahu siswa.
b.
Pengaturan Fisik
Membagi
siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok
c. Kesibukan
dalam Kelas
Kegiatan secara kreatif
sering menuntut kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa. Oleh karena itu, guru
hendaknya agak tenggang rasa luwes dalammenuntut ketenangan dan sebagai siswa
tetap duduk pada tempatnya.
d. Guru
sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang
berbakat lebih berperan sebagai fasilitator daripada sebagai pengarang yang
menentukan segalanya bagi siswa. Sebagai fasilitator guru mendorong
siswa(memotivator) untuk menggabungkan inisitatif dalam.
2). Mengajukan dan Mengundang
Pertanyaan
a. Teknik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif
adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka.
b. Metode Diskusi
Dalammetode dikusi, peran guru dangat menentukan
keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada
siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas
masalah.
c. Metode Inquiry dan Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan,
penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses
pemecahan masalah.
3). Mengajukan Pertanyaan yang Menantang
Provoaktif)
Salah satu cara untuk
merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa
kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau
dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan
kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah
terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan
akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.
3.
Mengapa Belajar
Kreatif itu Penting
Menurut
Refinger(1980:9-13) dalam Conny Semawan(1990:37-38):
1). Belajar kreatif menciptakan
kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita
ramalkan yang timbul di masa depan.
2). Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna
jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam
upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan
belajar bagi mereka sendiri.
3). Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar
dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar
hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat
mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4). Belajar kreatif dapat
menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Kesimpulan
Setiap
individu memiliki kreativitas dan potensi yang berbeda-beda dan dalam bidang
yang berbeda. Potensi ini perlu dipupuk
sejak dini agar dapat diwujudkan. Untuk itu diperlukan kekuatan-kekuatan
pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri.
Perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat memupuk kreativitas individu,
dalam hal ini mencakup baik dari lingkungan dalam internal (keluarga, sekolah)
maupun eksternal (masyarakat). Dan diperlukan metode belajar kreatif yang
mendorong agar anak lebih berani bertanya dan mengemukakan pendapat.
Sumber :
Utami, Munandar. 2009. Kreativitas dan
keberbakatan. Jakarta: Rineka cipta.
Indrawati
danWanwan Setiawan, Pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan t.tp: PPPPTK
IPA, 2009