|
System
|
Elements
|
Goals
|
||
|
Inputs
|
Processing elements
|
Outputs
|
||
|
Persepsi
|
Objek, Situasi ataupun Peristiwa
|
|
Persepsi
atau Reaksi dari Stimulus yang didapat
|
Stimulus yang diindra
diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga menyadari atau mengerti
tentang apa yang diindra tersebut. Persepsi merupakan proses pemberian makna
terhadap suatu stimulus atau rangsangan dari luar melalui system sensoria tau
indra seperti penglihatan dan pendengaran.
|
Senin, 30 Oktober 2017
SOFTSKILL 2 CONTOH
SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI
DISUSUN OLEH :
- Anastasya (11514015)
- Anita Rachman (11514325)
- Nadira Shandra (17514750)
- Putri Indah L (18514604)
1. Pengertian
Sistem
Menurut Gaol
(2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling
berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu
kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Pengertian
Informasi
Menurut Jogiyanto
(2005) informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang
lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya, yang menggambarkan suatu
kejadian-kejadian yang nyata yang berguna untuk para pengambil keputusan.
3. Pengertian
Psikologi
Menurut
Muhibbinsyah (2001) psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah
laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok,
dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku
yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan
lain sebagainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir,
berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
4. Definisi Sistem Informasi Psikologi
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem
informasi psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan
antara ilmu psikologi dengan informasi dalam menggambarkan suatu kejadian yang
berguna bertujuan untuk menyimpan data mengenai tingkah laku seseorang.
SUMBER :
Gaol, J.L. (2008).
Sistem informasi manajemen. Jakarta
: PT Gramedia
Jogiyanto. (2005).
Analisis dan desain sistem informasi.Yogyakarta
: Penerbit Andi
Muhibbinsyah.
(2001). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Jumat, 21 April 2017
Analisis Kasus Logoterapi
Contoh kasus:
Kasus insomnia
Nyonya R berusia 49 tahun, dirawat karena selalu merasa
murung dan sulit tidur. Ny. R adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara dari
sebuah keluarga ningrat dan menjadi kesayangan keluarga. Waktu ia kuliah,
sekitar usia dua puluh tahun ia punya pacar yang sangat dicintainya. Hampir
tiga tahun mereka berpacaran secara sembunyi - sembunyi karena orang tua tidak
setuju karena pemuda itu berasal dari keluarga yang bukan keturunan ningrat,
akhirnya keduanya terpaksa memutuskan hubungan mereka atas tuntutan keras orang
tua.
Sejak saat itu Nyonya R merasa hidupnya "ngambang"
dan "kosong" serta merasa tak ada lagi kebahagiaan lagi dalam
hidupnya. Hal itu secara sadar diatasi dengan bekerja sebaik mungkin sehingga
ia dikenal dengan rekan - rekannya sebagai karyawati yang pandai dan
berprestasi dan sekarang menduduki posisi penting di kantornya. Terhadap pria
minatnya seakan - akan hilang dan beberapa kali mengabaikan saran orang tua
untuk berkeluarga dengan berbagai alasan. Akhirnya, waktu usia masuk 30 tahun,
orang tua menikahkannya dengan seorang duda berusia 46tahun yang istrinya
meninggal. Merreka masih ada kaitan keluarga (keturuan ningrat). Waktu itu
nyonya R terpaksa menyetujui untuk menikah, mengingat orang tuanya sudah lanjut
usia. Sekalipun sudah memiliki tiga orang anak, nyonya R terus terang
mengatakan bahwa ia sebenarnya rak begitu mencintai suaminya dan penyesuaian
diri diantara mereka mulai membaik setelah 5tahun perkawinan.
Sejak 2tahun yang lalu, nyonya R mengalami sulit tidur, ia
tidur paling lama 1 sampai 2 jam, itupun tidak pernah nyenyak. Kalaupun tidur,
sering mengalami mimpi-mimpi menakutkan sehingga bangun dengan rasa cemas dan
berkeringat. Dia benar-benar ingin bisa tidur dan membayangkan betapa nikmatnya
tidur nyenyak tetapi hal itu harus diserrtai kecemasan kalau-kalau mengalami
mimpi yang mengerikan seperti yang sering dialaminya.
Analisis kasus:
Dari kasus diatas dapat menggunakan logoterapi, dengan menggunakan
de-reflection terapi. Pertama ibu R ini harus dapat membaskan diri dari rasa
tertekan dan terpaksa yang telah ia lewat selam hiduonya tersebut. Ibu R bisa
memfokuskan diri ke hal – hal yang positif agar dapat dengan mudah melupakan
rasa yang ia derita, sehingga rasa tersebut bisa menghilang dengan sendiri,
maupun tidak dengan waktu yang cepat. Ibu R dapat melakukan hal-hal positif
yang berasal dari kemampuan pribadi ibu R, sehingga ibu R dapat menjalankan
kegiatan positif itu dengan senang hati tanpa beban dan daapt melupakan
perasaan tidak tenang yang telah dialami ibu R.
Sumber:
http://satiararas.blogspot.co.id/2016/04/contoh-kasus-logoterapi.html
Logotherapy, Rational Therapy, Terapi kelompok, Terapi perilaku
1.Logoterapi (Frankl)
·
Konsep dasar
Pandangan Frankl tentang kesehatan
psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan
kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat manusia harus dapat menemukan makna hidupnya
sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl
setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang
harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl
Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni
1.
Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena
mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
- Kebebasan yang
bertanggungjawab.
- Kebebasan untuk mengambil
sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-
kondisi tersebut.
- Kebebasan untuk
menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
hidupnya.
2.
Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi
motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977). Dalam psikoanalisa memandang
manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan psikologi individual bahwa manusia
adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek
dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan
makna. Mengenal makna, menurut Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya
mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya.
Agar individu menjadi individu yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan
yang syarat dengan makna.
3.
Makna Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam
keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan
tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu dengan yang lainya dan
berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting secara umum
bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada suatu saat tertentu.
Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus.
Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak
bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik
untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
·
Unsur – unsur Terapi\
- Munculnya gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki keinginan
terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap manusia untuk
melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan berharga.
Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan,
yaitu:
-
Frustasi eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga
kehampaan
eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992, exsistential
frustration adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan atau
kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
-
Neurosis noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi khusus dari
frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik klinis
tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini untuk
membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang berakar
pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis yang
bersumber pada konflik-konflik psikologis.
·
Teknik – teknik terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa
setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus
diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah
menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor
Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail.
Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
-
Intensi
paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang
disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah
keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
-
De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar persoalan
kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan mengalihkan
perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan
itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah
memuaskan pasangan tanpa memperdulikan kepuasan individu atau cobalah tidak
memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan.
2. Rational emotive therapy
· Konsep dasar
Dalam logoterapi, klien
diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna
yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong
jika sudah menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi
kita. Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis
yang detail. Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
- Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran
neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi
paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
- De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar
persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan
mengalihkan perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain,
persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami
masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan tanpa memperdulikan kepuasan
individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga
diri pasangan.
· Unsur – unsur terapi
Ø
Aktif-direktif
a)
Dalam hubungan konseling lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam
menghadapi dan memecahkan masalah
Ø
Kognitif-eksperiensial
b)
Hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan
berintikan pemecahan masalah yang rasional
Ø
Emotif-eksperiensial
c)
Hubungan yang dibentuk juga melihat aspek emotif klien dengan
mempelajari sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan
yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
Ø
Behavioristik
d)
Hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya
perubahan perilaku dalam diri kliennya
Ø
Kondisional
e)
Hubungan dalam terapi rasional – emotif dilakukan dengan membuat kondisi
tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai
tujuan terapi konseling.
Teknik – teknik terapi
1.
Teknik Emotive
Menurut Corey (1995) ada beberapa teknik
emotif, yaitu :
-
Assertive training
Yaitu melatih dan membiasakan klien terus
menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
- Sosiodrama
Yaitu mengekspresikan berbagai jenis
perasaan yang menekan klien (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana
yang dramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapan dirinya
sendiri baik secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
-
Self modeling
Yaitu menghilangkan perilaku tertentu,
dimana konselor menjadi model dan klien berjanji akan mengikuti.
2.
Teknik Behavioristik
Ada dua teknik behavioristik yaitu :
-
Reinforcement
Yaitu mendorong klien kearah perilaku yang
lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal kepadanya.
-
Social modeling
Yaitu menggambarkan perilaku-perilaku
tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk
percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
3.
Teknik Kognitif
Teknik kognitif yang cukup dikenal adalah
Home Work Assigment atau teknik tugas rumah, digunakan agar klien dapat
membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntun
pola perilaku yang diharapkan (Corey, 1995).
3. Terapi kelompok
·
Konsep dasar
Terapi kelompok memandang bahwa
manusia itu makhluk yang unik, dan dinamis, setiap manusia memiliki karakteristik
yang berbeda. Setiap manusia memiliki problem yang berbeda- beda, oleh karena itulah setiap
orang tidak sama dalam menangani suatu pemecahan masalah.
·
Unsur – unsur terapi
munculnya gangguan, tujuan terapi, dan
peran terapis
a.
Munculnya gangguan
Terapi kelompok digunakan ketika
klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
b. Tujuan terapi
- Meningkatkan identitas diri
- Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar
sesama didalam kelompok terapis
- Meningkatkan keterampilan
hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
c. Peran terapis
Terapis harus memainkan peranan yang aktif
dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.
·
Teknik – teknik terapi
- Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif
- Terapis turut membantu klien
untuk melepaskan segala kecanggungannya, agar lebih
bisa terbuka dan menceritakan masalah yang dialaminya.
- Berfokus pada satu topik permasalahan yang hendak diselesaikan pertama
kali.
B. Terapi keluarga
1. Konsep dasar: Pandangan terapi keluarga
tentang kepribadian
Terapi
keluarga mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia pertama kalinya dibentuk
didalam lingkaran keluarga.
2. Unsur-unsur terapi: munculnya gangguan,
tujuan terapi, dan peran terapis.
a. Munculnya gangguan
Terapi
keluarga digunakan ketika permasalahan terkait dengan keluarga, seperti suami
dengan istri- orang tua dengan anaknya, atau antar saudara.
b. Tujuan
terapi
- Menurunkan konflik kecemasan keluarga
- Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing-masing
keluarga
- Meningkatkan hubungan peran yang sesuai
-
Membantu keluarga untuk menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga
c. Peran terapis
Terapis melakukan pemahaman tentang arti dan peran dari
masing-masing
keluarga, serta membantu untuk meningkatkan peran serta keluarga agar
kuat dalam menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga.
C. Terapi bermain
1. Konsep dasar: Pandangan terapi bermain terhadap kepribadian
Terapi ini lebih cocok diberikan kepada anak-anak yang berkebutuhan
khusus,
pandangan terapi bermain adalah setiap anak yang mempunyai kebutuhan
khusus
memiliki kepribadian yang relatif sama hanya penanganannya yang berbeda.
2.
Unur-unsur terapi: Munculnya gangguan, tujuan terapi, peran terapis.
a. Munculnya gangguan
Terapi diberikan ketika seorang anak mengalami gejala-gejala yang lain
daripada anak lainya seperti
hyperaktif.
b. Tujuan terapi
Mengembangkan gerak seorang anak (psyhcomotorik) serta adaptasi
sosial seorang anak
c. Peran terapis
Terapis turut serta dalam permainan anak.
4.
Terapi perilaku
·
Konsep dasar
Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah
pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory)
yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety
disorders, phobias, dengan memakai tehnik yang didesain menguatkan kembali
perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.
Pada tahun 1920, Watson dkk melakukan percobaan pengkondisian
(conditioning) dan pelepasan kondisi (deconditioning) pada rasa takut yang
merupakan cikal bakal terapi perilaku formal.
Pada tahun 1927, Ivan Pavlov terkenal dengan percobaannya pada anjing
dengan memakai suara bell untuk
mengkondisikan anjing bahwa bel sama dengan makanan, yang kemudian dikenal juga
dengan istilah “stimulus” dan “respon”.
Terapi perilaku pertama kali ditemukan pada tahun 1953 dalam proyek
penelitian oleh BF Skinner, Ogden Lindsley, dan Harry C. Salomo. Selain itu,
termasuk juga Wolpe Yusuf dan Hans Eysenck.
Secara umum, terapi perilaku berasal dari tiga Negara, yaitu Afrika
Selatan (Wolpe), Amerika Serikat (Skinner), dan Inggris (Rachman dan Eysenck)
yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam melihat masalah perilaku.
Eysenck memandang masalah perilaku sebagai interaksi antara karakteristik
kepribadian, lingkungan, dan perilaku.
Di Amerika Serikat Skinner dkk. menekankan pada operant conditioning yang
menciptakan sebuah pendekatan fungsional untuk penilaian dan intervensi
berfokus pada pengelolaan kontingensi seperti ekonomi dan aktivasi perilaku.
Ogden Lindsley merumuskan precision teaching, yang mengembangkan program
grafik (bagan celeration) standar untuk memantau kemajuan klien.
Skinner secara pribadi lebih tertarik pada program-program untuk
meningkatkan pembelajaran pada mereka dengan atau tanpa cacat dan bekerja
dengan Fred S. Keller untuk mengembangkan programmed instruction. Program ini
dicoba ke dalam pusat rehabilitasi Aphasia dan berhasil. Gerald Patterson
menggunakan program yang sama untuk mengembangkan teks untuk mengasuh anak-anak
dengan masalah perilaku.
Terapis behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara
pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu
kepedulian utama dari para terapis sebagai kriteria pengukuran keberhasilan
terapi. Manusia menurut pandangan ini bukan hasil dari dorongan tidak sadar
seperti yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dalam konsep behavioral, perilaku
manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan
mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses terapi merupakan
suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah
perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Terdapat beberapa teori dasar
mengenai metode terapi perilaku, yaitu :
a.
Perilaku maladaptif dan kecemasan persisten telah dibiasakan
(conditioned) atau dipelajari (learned).
b.
Terapi untuk perilaku maladaptif
adalah dengan penghilangan kebiasaan (deconditioning) atau ditinggalkan
(unlearning).
c. Untuk
menguatkan perilaku adalah dengan pembiasaan perilaku (operant and clasical
conditioning).
·
Unsur – unsur terapi
1)
Munculnya Gangguan
Terapi behavior adalah salah satu teknik
yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan
dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang
dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih
efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih
efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.
2)
Tujuan Terapi
Terapi behavioral memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku
spesifik atau perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan
kondisi-kondisi baru bagi proses belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah
laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif.
3)
Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran
aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para
kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan
ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan
prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang
baru dan adjustive.
·
Teknik – teknik terapi
.
Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau
counterconditioning.
2.
Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan
memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau
khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan
diri.
3.
Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip
operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan.
4.
Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar
observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan
kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain
mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka.
5.
Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri
sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons
bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.
Sumber :
Selasa, 21 Maret 2017
contoh kasus humanistik eksistensial
Manda mahasiswa semester akhir pada politeknik ternama di
Jakarta. Saat ini dia sedang merasakan kekhawatiran karena dia akan dilamar
oleh pemuda idaman orang tuanya. Mereka sudah pernah bertemu pada acara
keluarga, menurut Manda pemuda itu mempunyai akhlak yang baik dan sudah bekerja
sebagai dosen di perguruan tinggi swasta. Manda menjadi ragu untuk menghadapi
lamaran itu karena selama ini dia tidak pernah memiliki teman pria yang spesial
atau bisa disebut pacar. Karena teman laki-laki Manda dulu saat masih SMA sudah
meninggal karena kecelakaan saat mereka berdua berboncengan motor dari pulang
sekolah. Sejak informasi bahwa ada pemuda yang akan melamarnya, perasaannya
menjadi asing, dia ingin memberikan kepercayaan namun sangat sulit baginya.
Manda selalu terbayang bahwa dia bisa saja kehilangan lagi orang yang dia
kasihi, namun disisi lain Manda merasakan kesepian dan membutuhkan seorang
teman yang bisa memahaminya. Ketidak konsistenan dan pertentangan ini membuat
Manda menjadi bingung. Hingga akhirnya memutuskan untuk menemui konselor.
Dari contoh kasus diatas menggunakan teknik humanistik
eksistensial, pertama manda harus menerima bahwa teman laki-laki yang dulu
dekat dengan manda sudah menginggal dunia, manda harus memaafkan kejadian
tesebut dan menerima kenyataan yang sebenarnya, konselor memahami bagaimana
rasa yang dialami manda, lalu memberikan pengertian dan dorongan kepada manda,
bahwa dengan mecoba perlahan untuk mempunyai teman laki – laki agar rasa takut
akan kehilangan ini dapat memudar, konselor dapat memberikan pernyataan bahwa
manda merasakan rasa kesepian dan menginginkan seorang teman, maka manda harus
bisa dapat mencoba berteman agar rasa kesepian itu dapat hilang. Konselor
memberikan kebebasan apa yang harus manda lakukan kepda manda sendiri. Agar
keputusan apapun yang dilakukan manda itu murni karena manda sendiri yang ingin
melakukannya.
Psikoterapi
1.
Pengertian psikoterapi
Psikoterapi adalah proses yang digunakan
profesional dibidang kesehatan mental untuk membantu mengenali, mendefinisikan,
dan mengatasi kesulitan interpersonal dan psikologis yang dihadapi individu dan
meningkatkan penyesuaian diri mereka (Proschaska & Norcross, 2007)
·
Tujuan Psikoterapi
Tujuan psikoterapi menurut pendekatan psikologi, yaitu:
A. Psikoterapi
psikodinamika, membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari.
Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan
bekerja melalui konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
B. Psikoterapi
psikoanalisis, membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang
sudah lewat melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
C. Psikoterapi
behavioristik, menghilangkan kesalahan dalam belajar, mengganti dengan
pola-pola perilaku yang lebih sesuai dan belajar perilaku yang efektif.
D. Psikoterapi
Gestalt, membantu klien memperoleh pemahaman mengenai pengalaman-pengalamannya.
Tujuan dari psikoterapi menurut Korchin adalah :
1 Memperkuat motivasi klien
untuk melakukan hal yang benar
2 Mengurangi tekanan
emosional
3 Mengembangkan potensi
klien
4 Mengubah kebiasaan
5 Memodifikasi struktur
kognisi
6 Memperoleh pengetahuan
tentang diri
7 Mengembangkan kemampuan
berkomunikasi dan hubungan interpersonal
8 Meningkatkan kemampuan
mengambil keputusan
9 Mengubah kondisi fisik
10 Mengubah kesadaran diri
11
Mengubah lingkungan sosial
·
Unsur – unsur psikoterapi
Menurut
Masserman ada tujuh ”pengaruh parameter” dasar yang mencakup unsur-unsur pada
semua jenis psikoterapi, diantaranya :
1. Peran sosial
2. Hubungan
3. Hak
4. Retrospektif
5. Re-edukasi
6. Rehabilitasi
7. Resosialisasi
8. Rekapitulasi
1. Peran sosial
2. Hubungan
3. Hak
4. Retrospektif
5. Re-edukasi
6. Rehabilitasi
7. Resosialisasi
8. Rekapitulasi
·
Perbedaan antara psikoterapi dan konseling
Psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya
emosional dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami
penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang
di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan kepribadian ke arah yang positif.
Sedangkan konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli
dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat
ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli
dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan
juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang
diyakininya.
·
Pendekatan mental illnes
1) Terapi Psikoanalisa
(Psikodinamika)
Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu
klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat. Tujuannya
adalah agar klien menyadari apa yang sebelumnya tidak disadari.
2) Terapi behavioral
Manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan
sebab-akibat atau aksi-reaksi). Dalam hal ini berkaitan dengan classical conditioning
(Ivan Pavlov) yang menggunakan anjing sebagai percobaannya, ketika anjing
menekan bel muncul makanan dan air liur. Selain itu juga operant conditioning
(B.F Skinner) yang menggunakan tikus sebgai percobaannya.
3) Terapi Humanistik
Sebuah pendekatan umum terhadap perilaku manusia yang menekankan pada
keunikan, keberhargaan, dan nilai tujuan pribadi. Terapi humanistic adalah
terapi yang dimaksudkan untuk menangani manusia secar menyeluruh.
4) Terapi Kognitif
Perilaku manusia dipengaruhi oleh pikirannya. Terapi ini lebih fokus pada
modifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Tujuan terapi ini adalah
mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional.
5) Terapi Integratif/Holistik
Memilih dari berbagai tehnik terapi yang paling tepat untuk klien
tertentu, ketimbang mengikuti dengan kaku satu tehnik tunggal. Selain itu
terapi ini merupakan suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk
menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.
2.
Terapi psikonalisis
·
Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur
kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang
terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa mentoleransi
tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta
untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat
tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b. Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan
mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi pengantar naluri-naluri dengan
lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego
berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan
bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c. Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral bagi
individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk,
benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan
mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi
menghambat impuls-impuls dari Id.
·
Unsur – unsur terapi
Tujuan Terapi Psikoanalitik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter
individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri
klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali
pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan
ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian.
Fungsi dan Peran Terapis
Karakteristik psikoanalisi adalah terapi atau analis membiarkan dirinya
anonim sera hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien
memproyeksikan dirinya kepada analis. Analis berusaha membantu klien dalam
mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan
personal dalam menangani kecemasan serta secara realistis. Yang dilakukan klien
sebagian besar adalah berbicara, yang dilakukan oleh analis adalah mendengarkan
dan berusaha untuk mengetahui kapan dia harus membuat penafsiran yang layak
untuk mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.
·
Teknik – teknik terapi
Ø
Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik utama terapi psikoanalitik. Analis
meminta kepada klien agar membersihkan pikirannya dari peikiran-pemikiran dan
renungan sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saja yang melintas dalam
pikirannya. Dengan melaporkannya segera tanpa ada yang disembunyikan, klien
terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Cara yang khas adalah klien
berbaring diatas balai-balai sementara analisi duduk dibelakangnya sehingga
tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi nya mengalir bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman
masa lalu dan melepas emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi
traumatik dimasa lampau yang dikenal dengan katarsis.
Ø
Analisis Transferensi
Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Transferensi dalam
proses terapeutik ketika “urusan yang tidak selesai” dimasa lalu klien dengan
orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang.
Analisis trasferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab
mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia
memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi dan
deprivasi dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap
kehidupannya sekarang. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa
dini yang tidak diinginkan dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional
yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
Ø
Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah
klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang resistensi
sebagai dinamika terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan
mengingat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan yang
direpresi itu.
Resistensi bekerja dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan
usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketidaksadaran
klien.
Ø
Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan
yang tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area
masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan melemah dan perasaa
yang direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi sebagai “jalan
istimewa menju ketidaksadaran” karena melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan
ketakutan yang tidak disadari diungkapkan. Mimpi memiliki dua taraf isi yaitu
isi laten dan isi manifes.
3. Terapi humanistik eksistensial
·
Konsep dasar teori humanistik eksistensial
tentang kepribadian
Teori dan Pendekatan Konseling
Eksistensial-humanistik
berfokus pada diri
manusia. Pendekatan ini
mengutamakan suatu sikap
yang menekankan pada pemahaman atas
manusia. Terapi eksistensial
berpijak pada premis bahwa manusia tidak
bisa lari dari
kebebasan dan bahwa
kebebasan dan tanggung
jawab berkaitan. Pendekatan
Eksisteneial-Humanistik dalam
konseling menggunakan sistem
tehnik-tehnik yang bertujuan
untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan
terapi
eksistensial-humanistik bukan
merupakan terapi tunggal,
melainkan suatu pendekatan
yang mencakup terapi-terapi yang
berlainan yang kesemuanya
berlandaskan konsep-konsep dan
asumsi-asumsi tentang manusia.
Pendekatan ini Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup
kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri,
kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian
makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada
dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan
mengaktualkan diri. Pendekatan ini memberikan kontribusi yang besar dalam
bidang psikologi, yakni tentang penekanannya terhadap kualitas manusia terhadap
manusia yang lain dalam proses teurapeutik. Terapi eksistensial-humanistik
menekankan kondisi-kondisi inti manusia dan menekankan kesadaran diri sebelum
bertindak. Kesadaran diri berkembang sejak bayi. Perkembangan kepribadian yang
normal berlandaskan keunikan masing-masing individu. Berfokus pada saat
sekarang dan akan menjadi apa seseorang itu, yang berarti memiliki orientasi ke
masa depan. Maka dari itu, akan lebih meningkatkan kebebasan konseling dalam
mengambil keputusan serta bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang di
ambilnya.
·
Unsur – unsur terapi
a. Tujuan-tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara
otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar
bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
Tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan
karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan
bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Terapi eksistensial juga bertujuan membantuklien agar mampu menghadapi
kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa
dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar
dirinya.
b. Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada
dalam-dunia. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki
orintasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
Berorientasi pada pertumbuhan.
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
yang menyeluruh.
Mengakui bahwa putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di
tengan klien.
Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit
menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan
kebebasan klien.
·
Teknik – teknik terapi
c. Teknik-teknik
Terapi
Yang paling dipedulikan
oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa
menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya
adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien
agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis
eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi
bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap
yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik
seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien
sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka
mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada
perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer &
Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan
teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan
manipulasi
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal
menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif
menantang dan memahami klien.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
·
Penerimaan
·
Rasa hormat
·
Memahami
·
Menentramkan
·
Memberi dorongan
·
Pertanyaan terbatas
·
Memantulkan pernyataan dan
perasaan klien
·
Menunjukan sikap yang
mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
·
Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna
4.
Person centered therapy (rogers)
·
Konsep dasar pandangan rogers tentang
kepribadian
Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus
pada hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada
klien. Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah
klien bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan
ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang
menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya.
Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan
ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat
menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui
pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh
harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.
·
Unsur – unsur terapi
1. Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka
berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang
agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap
terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan,
teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya
sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik
yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis
menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali.
Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan
di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa
yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah
esensial.
2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan
atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah
pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau
mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di
ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan –
perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui
karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau
menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi
penilaian.
·
Teknik – teknik terapi
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih
penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan
sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
2. Positive Regard (acceptance)
3. Congruence
Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan
menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk
berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan
bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan
mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah
satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine
caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien
karena keberadaannya.
Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan
tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.
Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya
bisa terjadi di dalam suatu hubungan.
Sumber:
Langganan:
Postingan (Atom)