Minggu, 19 April 2015

Kreativitas& keberbakatan


TUGAS
KREATIVITAS & KEBERBAKAT


Disusun Oleh :

Nama    : 1. Destika Nastiti (12514786)
 2. Mutia Damayanti (17514666)
 3. Putri Indah Larasati (18514604)
 4. Tita Rahmi Priwanti (1D514116)
Kelas     : 1PA16
Dosen    : Tri Maryani




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2014/2015


A.    Teori – Teori Pendorong Kreativitas
1.      Motivasi Intrinsik untuk Kreativitas
     Setiapindividu memiliki kecenderungan atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi matang, doronganmengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya.
     Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru denganlingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982)
2.      Kondisi Eksternal yang Mendorong Perilaku Kreativitas
Kretaivitas memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit unggul memerlukan kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan sendiri potensinya.
Bagaimana cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis.
1)      Keamanan psikologis
Ini dapat terbentuk dengan 3 proses yang saling berhubungan:
a.       Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
b.      Mengusahakan suasana  yang didalamnya evaluasi eksternal tidak ada / tidak mengandung efek mengancam. Evaluasi selalu mengandung efek mengancam yang menimbulkan kebutuhan akan pertahanan ego.
c.       Memberikan pengertian secara empatis
Dapat menghayati perasaan-perasaan anak, pemikiran-pemikirannya, dapat melihat dari sudut pandang anak dan dapat menenrimanya, dapat memberikan rasa aman.
2)      Kebebasan psikologis
          Apabila guru mengijinkan atau memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan secara simbolis (melalui sajak atau gambar) pikiran atau perasaannya. Ini berarti memberi kebebasan dalam berfikir atau merasa apa yang ada dalam dirinya.
B.     Teori – Teori Proses Kreatif
1.      Teori Wallas
Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap :
1. Tahap Persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari orang lain, bertanya kepada orang lain.
2. Tahap Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
3. Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “Insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
4. Tahap Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).
2.      Teori tentang Belahan Otak Kanan dan Kiri
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi, selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan. Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “Dichotomia” yang membagi fungsi mental menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).

DIKOTOMI FUNGSI MENTAL
Belahan Otak Kiri
Belahan Otak Kanan
Intelek
Intuisi
Konvergen
Divergen
Intelektual
Emosional
Rasional
Metaforik, intuitif
Verbal
Non Verbal
Horizontal
Vertikal
Konret
Abstrak
Realistis
Impulsif
Diarahkan
Bebas
Diferensial
Eksistensial
Sekuensial
Multiple
Historikal
Tanpa Batas Waktu
Analitis
Sintesis, Holistik
Eksplisit
Implisit
Objektif
Subjektif
Suksesif
Simultan
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981
C.    Belajar Kreatif
1.      Pengertian Belajar Kreatif
Belajar kreatif adalah pembelajaran yang menstimulasi siswa untuk mengembagkan gagasannya dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada. Pembelajaran yang kreatif mengandung makna yang tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan kurikulum.
2.      Liputan Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang guru yang profesional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar :
1). Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
a.         Memberikan pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang berperilaku kreativitas sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa selanjutnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjaan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan untuk meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperan serta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
b.      Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok
c.       Kesibukan dalam Kelas
Kegiatan secara kreatif sering menuntut kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa. Oleh karena itu, guru hendaknya agak tenggang rasa luwes dalammenuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya.
d.      Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator daripada sebagai pengarang yang menentukan segalanya bagi siswa. Sebagai fasilitator guru mendorong siswa(memotivator) untuk menggabungkan inisitatif dalam.
2). Mengajukan dan Mengundang Pertanyaan
a.  Teknik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka.
b. Metode Diskusi
Dalammetode dikusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah.
c. Metode Inquiry dan Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah.
3). Mengajukan Pertanyaan yang Menantang Provoaktif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.
3.      Mengapa Belajar Kreatif itu Penting
Menurut Refinger(1980:9-13) dalam Conny Semawan(1990:37-38):
1). Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
2). Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
3). Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4). Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

Kesimpulan
Setiap individu memiliki kreativitas dan potensi yang berbeda-beda dan dalam bidang yang berbeda. Potensi ini perlu dipupuk sejak dini agar dapat diwujudkan. Untuk itu diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri. Perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat memupuk kreativitas individu, dalam hal ini mencakup baik dari lingkungan dalam internal (keluarga, sekolah) maupun eksternal (masyarakat). Dan diperlukan metode belajar kreatif yang mendorong agar anak lebih berani bertanya dan mengemukakan pendapat.

Sumber :
Utami, Munandar. 2009. Kreativitas dan keberbakatan. Jakarta: Rineka cipta.
Indrawati danWanwan Setiawan, Pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan t.tp: PPPPTK IPA, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar